Sabtu, 17 Maret 2018

BELAJAR SYUKUR




Suara gemuruh angin besar mengiringi langkahku. Kibasan pakaianku terlihat gemulai, dedaunan kecil dibatang kayu melambai bak angin melawan kain. Malam ini sungguh sepi, mungkin banyak yang beranggapan sudah waktunya tidur malam.
Sedang ku menonton candaan supir truk, mereka bahkan sepertinya mulai lelah. Malam ini aku sedang di pelabuhan. Menunggu yang tak lama dan mungkin waktu yang berjalan kisaran dua puluh menit, kapal yang nantinya akan mengangkutku.
Madura memang indah, cukup gersang namun malam ini terasa sejuk sekali. Ku duduk dibantaran besi hanya sekedar untuk menunggu, ku tatap wajah hitam pekat langit yang terpampang suram diatas kepalaku. Memang ini sudah cukup larut, tak asinglah bagiku melihat rupa langit malam. Aku yang sering begadang malam dan hampir pernah tidak memejamkan mata semalaman. Alhasil yang ku harapkan telah menguatkan harapan, yang sedang ku tunggu sudah datang.
Ku pijakkan kaki kanan ku terlebih dahulu dengan bibir yang membentuk manisnya senyuman. Ah aku tak sabar, satu demi satu ku langkahkan kaki ku. Tangga ini sangat pendek, ku rasa sudah sepuluh pijakan pijakan kaki ku mellangkah dan sampailah aku dimana berjejer dengan barisan kursi besi namun padat dan cukup kuat. Barisan kursi yang sudah berpenghuni dan kosong. Ingin ku mencari posisi yang pas. Tak berfikir lama aku menaruh tas ransel hitam yang cukup berat, isinya sepasang pakaian, satu kerudung, dan obat-obatan wasiat ibu. Baru kemarin sempat berkomunikasi namun jujur, aku merindukan mereka. Ibu selalu memberi ku obat untuk mengantisipasi agar aku tidak mual pada saat perjalanan di dalam kendaraan umum. Aku juga membawa buku, satu pena bertinta hitam, perlengkapan mandi (pasta gigi, sikat, sabun cair, parfum, deodoran dan bedak) Ku letakkan tasku di kursi berwarna seperti buah jeruk yang cukup menyegarkan.

***********
Bel atau entah apalah penanda kapal yang akan bersiap dan mengantarku. Aku duduk dengan memasukkan tangan ke dalam saku jaket yang cukup tebal. Lautan yang ku lewati menarik hatiku, gemercik air laut saat terlintasi kapal terdengar riuh. Sepertinya kapal yang ku tumpangi mengingatkan ku dengan film barat TITANIC. Titanic adalah sebuah film epik, roman dan bencana Amerika Serikat (AS), di produksi tahun 1997.
Menuju pucuk kapal kaki ku melangkah, hembusan angin terasa amat keras. Telingaku terasa berisik mendengar derasnya bunyi air dibawah kapal. Aku termangun cukup lama, dengan duduk di batang besi penghubung pucuk dan awak kapal dan melihat pemandangan yang menakjubkan ada didepan mataku. Warna warni lampu yang menyala hiasi gelapnya malam. Sekelibasan baru saja, ku rasa ada sesuatu yang lewat, warna hitam dan terbang. Sontak ku berfikir kalau itu kelelawar, wajar saja ada kelelawar, malam ini cukup larut. Kapal masih berjalan diatas air. Lautan lepas yang menghubungkan madura dengan surabaya, tidak heran. Jembatan panjang dan modern di samping kiri ku saat ini namun berjarak cukup jauh dengan ku bernama jembatan suramadu.
Mungkin lima menit lagi kapal menyandarkan awakan nya di Surabaya (seberang Madura). Bel kapal bersautan menyapa kapal satu dengan yang lain dan membuat telingaku cukup terganggu. Layaknya tahun baru yang setiap kali meniup terompet dan bersautan satu dengan yang lain.
Aku berinisiatif kembali duduk, ku lihat wajah orang-orang yang sudah siap untuk turun dan membawa barang bawaan nya dengan kedua tangan, ada juga yang hanya dengan tas mini kecil atau tas ransel cukup besar, sepertinya berat. Tidak lama kemudian, memang benar, kapalnya sudah berhenti. Sampailah aku pada tempat tujuan pertama. Cukup melegakan karena ku sampai tujuan dengan keadaan selamat. Kapal sudah tak terlihat lajunya, aku bersiap-siap begitu juga

orang-orang disekitaku yang sebelumnya sudah bersiap lebih awal. Berbondong-bondong keluar dari kapal, menentengi barang bawaan begitu juga tas ransel yang siap ku pakai, tapakkan kakiku siap melaju di tanah Surabaya.
Aku tiba di perak, ada pelabuhan dan terminal yang berdekatan disini. Ku berjalan sekitar sepuluh menit kurang lebih dan duduk di bebatuan pinggir jalan berniat mencari bus Trans tujuan bungurasih. Menghembuskan nafas dan meletakkan kaki ku lurus di pinggir jalanan terminal. Cukup lama aku menunggu, dimana memang banyak sekali bis yang terparkir disana, namun aku mencari kendaraan yang bertarif murah, nah bis Trans jawabnya. Pilihan bis yang sangat tepat, selain tarifnya yang murah dan lagi fasilitasnya yang ku sukai. Tidak membuat ku mual, ber-AC, tempat duduk nyaman, luas dan cepat.
Lampu jalanan seolah berkedip dengan datangnya malam, bukan hanya warna jingga, putih dan warna-warna lainnya yang ku lihat di sekitarku. Aku melihatnya, bis yang ku tunggu sudah datang. Dengan warna biru cerah dan bergambar paparan kota-kota besar atau sejenis bangunan tinggi. Aku naik didalamnya. Terpikir mungkin sejamlah aku sampai di bungur, ku peluk erat tas ranselku yang berat, ku pangku dan aku tidur dengan memberi pesan kepada kernet bis, “saya turun bungurasih pak”.
Sebelumnya waktu malam namun tak semalam sekarang aku pernah naik bis Trans, begitu cantik ku memandang kemerlip lampu di jalan dengan tambahan lampu rumah dan kios-kios yang berjejeran rapi disana. Bahkan lagi lampu merah dengan tiga lampu yang secara bergantian menyala. Merah, kuning, dan hijau. Bak lagu anak-anak Balonku.




Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau. DORR!
............
Tubuhku sepertinya meriang, mungkin karena baru tadi siang aku makan, dan sekarang perut mulaisedikit kosong. Apalagi dengan dinginnya AC didalam bis yang membuat bulu kudukku berdiri. seakan dingin nya meresap kedalam pori-pori kulitku. Aku duduk di kursi nomor dua dari yang terdepan. Ku menarik resleting tas ranselku dan mengambil jaket merah muda bergambar lucu dengan hiasan goresan SMILE dan topi berkuping. Ku pakai jaketnya dan ku masukkan tanganku kedalamnya hingga tak terlihat satu jaripun.
Isi bis menampung berbagai macam penumpang, ada yang tua dewasa namun tak lagi ada anak-anak. Bis berjalan sudah cukup lama, sebentar lagi aku sampai di Bungurasih. Tidak terlalu lama aku bergumam “apakah masih lama?” bis Trans sudah berhenti di terminal bungurasih.
Aku segera turun dan melewati jalan yang penuh debu, kibasan angin, lambaian pohon dan dedaunan hijau yang sengaja menyapa. Dengan tarif enam ribu rupiah aku sampai disini. Tak begitu ramai, namun lebih banyak orang daripada terminal perak tadi.
Nampaknya ada yang berbeda dengan temapat ini, sepertinya baru saja ada pembangunan dan terlihat megah terminal yang sedang ku pandangi bangunannya saat ini. Aku sering sekali mampir di terminal Bungurasih ini, untuk pulang kampung, aku ini anak rantau di pulau


orang aku sedang menimbah ilmu dan harus jauh lama dengan orang tua.
Aku bersyukur bisa melanjutkan pendidikan meski keadaan ekonomi di keluarga ku tidak meyakinkan untuk aku berkuliah. Yang adil memang adil, beasiswa mengantarkan ku menuju impian ku.
Di terminal bungurasih ku mencari seniorku di sebuah warung yang dulu sempat kita berkumpul disana. Sesampainya diwarung, aku makan nasi goreng yang cukup mengeyangkan dengan susu putih panas, teh yang hampir tak hangat lagi, dan kopi hitam panas agar mengutrangi rasa kantukku.
Beginilah mencari ilmu, dimana liburan panjang di isi dengan liburan namun bermanfaat, mendidik, menyadarkan dan banyak lagi hal positif lainnya. Liburan kali ini aku pergi ke kota istimewanya negara Indonesia Yogyakarta.
Dengan dibekali uang saku yang cukup miris namun ku berniat agar cukup buatku hidup disana selama sepuluh hari, seratus ribu rupiah per-anak. Waktu menunjukkan pukul 23:00 WIB. Aku berjalan menuju daerah Medaeng, ku kira uang tidak akan cukup jika naik bis atau kendaraan umum menuju jogja dan pada akhirnya aku dan rekan-rekan ku mencari kendaraan menuju jogja dengan cara Nggandol. Seperti anak-anak bonek dan jalanan namun sepertinya seru.
Kendaraan pertama kami dapatkan di lampu merah perempatan Medaeng, disana banyak sekali kendaraan besar yang sengaja lewat. Dominan truk yang mengangkut barang dan juga bis kota, namun kali ini tumpangan pertama kami adalah mobil pick up, orang jawa bilang kol bak, atau pikep.
Aku naik dengan gaya yang entah bagaimana jadinya dan kol bak pun melaju dengan sangat cepat. Angin sepoy-sepoy berhembus kearah ku, aku tak begitu tahu arah pick up kemana dan menuju manakah. Yang


ku tahu hanyalah angin yang berhembus sangatlah cepat dan berhembus dengan derasnya. Namun tak berlalu lama pick up berhenti, aku tak tahu ini daerah mana. Tapi yang ku tahu aku sedang berhenti didaerah pasar, pasar yang begitu amat sepi. Wajar saja, karena mungkin jam sudah menunjukkan pukul menuju dini hari.
Setelah turun dan mengucapkan banyak terimakasih atas tumpangan gratis kami mencari tumpangan lagi dan segera mencari keberadaan lampu merah dekat lokasiku saat ini. Tak berselang beberapa lama meski harus menunggu di trotoar namun kamipun mendapatkan tumpangan kembali, sayangnya yang ini sepertinya cukup ekstrim karena bukan pick up lagi melainkan truk. Bagaimana lagi? aku harus bisa manjat meskipun tangan yang pernah terluka waktu ku kecil harus kuat memopang tubuhku untuk memegang erat bagian awakan truk agar aku bisa memanjatnya. Katanya si supir “turun Nganjuk le” jawab salah satu seniorku “enggeh pak”. Lumayan juga bisa beristirahat cukup lama didalam kotak yang sudah tak bersih lagi entah itu bekas urukan pasir atau apalah. Banyak sisa tanah dan pasir didalamnya.
Aku merebahkan tubuhku didaratan truk, bahkan aku tidak peduli jika truk itu kotor. Nikmat sekali melepas beban dengan beristirahat, ku pun tertidur dengan kencangnya hembusan angin malam yang lebih dingin dari yang ku perkirakan.
Truk terus melaju...................
Malam berganti pagi dengan datangnya mentari yang menandai sorotan cahaya nya ke tubuhku yang dingin sebab angin kemarin malam. Tak disangka truk yang ku tumpangi tidak hanya turun di Nganjuk namun di Ngawi. Syukurlah supir berbaik hati antarkan kami semua sampai Ngawi. Bergegaslah kami semua turun dan mencari tempat seraya beristirahat. Nah waktu itu kebetulan ada truk merah tua berhenti didepan bengkel sepi didaerah Ngawi.


“Janganlah duduk ndah nanti tidur lagi kau”, ujarku.
Aku dan kawan-kawan berinisiatif untuk berlatih naik turun truk, apa salahnya belajar? sengaja mengualng-ulang seperti sedang tutorial. Berhenti sejenak dan menghembuskan nafas setelah ku mengakhiri latihanku, sudah cukup bisa lah bagi ku. Perutku terasa kerocongan, dengan sarapan sedikir roti dan minum air cukup mengganjal rasa laperku. Terik panas matahari sudah terasa, sudah waktunya kami mencari tumpangan kembali. Pas diseberang kanan jalan adalah lapumerah. Ku duduk disitu dengan kawan-kawan. Berharap ada yang memberikan tumpangannya untuk kita.
Cukup lama menunggu karena penolakan dan banyak truk yang mengangkut barang, tetap semangat dan pada akhirnya ada yang mau kita tumpangi. Al hasil kata si supir sampai pada wilayah Prambanan. Entah kenapa kami semua suka tidur dilam box truk yang sangat oanas karena bertemu langsung dengan sinar matahari. Hari hampir sore dan kami kembali beristirahat dan tertidur lagi.
Tak tahu bagaimana bentuk pemandangan, aku sampai di Prambanan . Yang sebelumnya sempat berhenti dan lagi mencari tumpangan truk lagi, seingat ku didaerah surakarta dan lampu merah sekitarnya. Sampai di Prambanan mungkin sudah pukul 22:00 WIB. Turun di terminal dan rasanya aku sangat lapar sekali, membeli makanan di terminal memang mahal tapi tak apalah yang penting perut kosongku terisi.
Sehabis makan kami melanjutkan untuk bersih diri hanya sekadar mencuci muka dan tidur lagi karena sudah malam dan besok harus siap ke Yogyakarta kota untuk melaksanakan tugas.
Pukul 04:00 menuju 05:00 kami bersiap-siap untuk mencari tumpangan kembali. Namun tidak dengan aksi nggandol-nggandol lagi tapi naik bis Trans Jogja di singkat TJ.


Cukup indah pemandangan kota ayu Yogyakarta. terlihat bangunan candi Prambanan dan tarif TJ yang sangat murah. Hanya dengan Rp.3500 bisa keliling Yogyakarta.
Turunlah kami semua di halte Malioboro. Ada tiga Malioboro disana. Misi pertama adalah Keraton. Keraton terlihat anggun dan sangat menakjubkan, tidak pernah sepi sepertinya. Hampir sampai sore tugas Keraton terselesaikan, dimana sultan tak ada ditempat. Hanya bertemu abdi dhalem dan melihat-lihat pemandangan klasik tempat bersejarah itu.
Keraton clear.
Setelah itu di sore yang ditemani warna langit jingga itu kami menuju taman di Malioboro tiga, tidak sia-sia kami mendapatkan keterangan Malioboro melalui pedagang asongan. Dengan menwarkan dagangan nya kepada kami tapi kami tak menggubris apa yang sedang pedagang itu tawarkan. “es mbak, es mas!”.
Malioboro clear.
Kami berkeliling dan mencari makan, karena malam sudah tiba. Langit sudah mulai gelap namun kerlap-kerlip lampu jalanan di sekitaran Malioboro 1-2-3.
Berjalan cukup jauh dari sana dan menuju angkringan kami membeli makanan dengan nasi seharga Rp.2000 dan gorengan. Berhenti di depan halaman rumah orang sampai akhirnya tertidur pulas karena pagi harinya nanti harus ke pasar Beringharjo.
Tidur dan bergantian menjaga satu sama lain.
*********



Adzan subuh sudah berkumandang dan dengan wajah sedikit mengantuk dengan kantung mata sedikit hitam kami menuju pasar Beringharjo. Mencari informasi mengenai kilas balik pasar Beringharjo yang bersangkutpaut dengan kesultanan. Apalagi ada pula yang membantu sebagai tukang panggunl disana.
Pasar Beringharjo clear.
Cukup puas dengan hasil yang sudah terselesaikan.
Sore harinya kami semua berkeinginan untuk pergi ke kampung Cyber. Terletak berdampingan dengan lokasi Taman Sari, cukup lama kami berjalan menuju kesana.
Sungguh menakjubkan kecanggihan kampung Cyber dimana masyarakatnya terbilang canggih dan modern. Terpampang papan nama diatas rumah lurahnya. Ingin menemui lurah disana dan saat itu pak lurah tidak ada di rumah, ujar warga “pak lurah ada hanya pada saat kampung Cyber ada acara atau kegiatan”
Namun kami mendapatkan info dari remaja cerdas yang aktif dalam menciptakan karya yang menakjubkan dan mahal. Alhasil kami tau bagaimana kampung Cyber.
Kampung Cyber clear.
Makan sehari sekali dan terus menerus menyusuri jalan. Namun pada saat keputusan kami untuk menyelesaikan tugas ke 14 kecamatan kami makan dua kali sehari denga  harga Rp. 1500 s/d Rp. 2500. Nasi berlauk tempe oseng dan sambal teri ditambah sedikit mie dengan gorengan Rp.2000 dapat tiga.
Setiap harinya kami menjalankan tugas dengan berjalan kaki, namun bila kesal naik TJ atau rehat di mushollah.
Kecamatan perkecamatan kami datangi.


Berhari-hari sudah berlalu, alhasil kami mendapatkan sepuluh kecamatan. Syukur alhamdulillah.
10 Kecamatan !
Beranjak dengan gonta-gantinya dan berpindah pindahnya kami untuk mencari tempat tidur, di masjid, mushollah, rumah warga, pos ronda, trotoar dan stasiun.
Beristirahatlah kami di stasiun, harus bangun kurang dari pukul 02:00 WIB. Namun karena terlalu pulas kami tidur dengan alasan lelah. Menuju pukul 03:00 lebih kami semua bangun dan pergi ke Pasar Kembang.
Dengan mata yang sedikit tertutup dan takut, kami berjalan menuju pasar kembang. Namun sayangnya kami mendapatkan hambatan saat masuk didalamnya. Berbagai ancaman dan penolakan yang terlontarkan dari mulut warga bahkan pak RT nya langsung yang menegaskan. Akhirnya, pasar kembang kurang memuaskan.
Dari perjalanan yag sudah sepuluh hari sebelumnya yang berlalu begitu lambat dan kadang terasa cepat aku sedikit mengambil makna dari apa yang sudah ku lihat di pinggir jalanan, atau juga yang berada dekat disekitarku bahwasanya hidup dengan rasa syukur itu sangatlah penting.
Syukur atas nikmat yang sudah tertuliskan untuk jalan hidup kita namun dibarengi dengan usaha dan ikhtiar yang lambat laun akan membawakan hasil yang membuat kita puas dan berkata Alhamdulillah.
Seperti kisah nenek tua yang berjualan kacang keliling, usia tua rentan tak membuat beliau menyerah untuk mencari penghasilan, bahkan mirisnya beliau tidak mempunyai seorang anak karena alasan belum menikah. Sungngguh kasihan. Tapi ku suka semangatnya. Dihargai Rp. 5000-per kacang.

Dan lagi kisah takmir masjid yang sedia kala mengepel, menyapu dan mengelap kaca. Sangat telaten meski harus di kerjakan sendiri. Teringat juang orang tua ku yang pekerjaan nya tidak jauh berbeda dengan beliau. Begitu lelah terlihat wajah tua nya setelah membersihkan area masjid.
 Qoutes
Jangan kau nikmati segala nikmat yang memang benar-benar untukmu, kau bisa saja serakah dan terus merasa kurang atas bermacam nikmat yang ada.
Tapi nikmati sebagian nikmat yang memang diturunkan kepadamu, berbagi nikmat kepada oranglain akan lebih nikmat dari besarnya nikmat yang kau kuasai sendiri. Bersyukurlah.

                                                      



SALAHKAH MENJADI MAHASISWA KUPU-KUPU


Hasil gambar untuk gambar kupu kupu


Tidak sedikit dari mata ke mata melihat dan jika sesekali bahkan berkali-kali memperhatikan atau mungkin memang secara konkretnya mengamati, begitu banyak sekali mahasiswa yang sekadar numpang mengisi absen dalam menghadiri jam mata kuliah. Memang benar, sistem kuliah berbeda dengan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Keatas. Bedanya jika dari tingkatan sekolah, siswa akan lebih banyak pembelajaran dikelas dan lagi akan lebih berlama-lama di sekolah. Di karenakan banyaknya mata pelajaran yang harus diampuh, belum lagi ada les tambahan, apalagi di zaman globalisasi sekarang ini sudah menyebar sistem pembelajaran Full day school.
Kuliah, apa yang kamu tahu tentang kuliah?
Singkatnya, kuliah adalah seseorang mengalami sebuah tingkatan secara akademik pasca sekolah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, remaja-remaja Indonesia setelah lulus SMA (Sekolah Menengah Keatas) ataupun yang belum meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Kuliah memang menyenangkan bagiku, meskipun memang kedepannya akan banyak sekali penugasan, namun tidak akan sama seperti halnya sekolah. Berbagai jurusan yang berbeda yang nantinya juga menentukan pekerjaan mahasiswa. Seperti fakultas pendidikan yang dominan nanti akan menjadi seorang guru. Lagi pula mata pelajaran yang disebut di dunia perkuliahan adalah mata kuliahnya tidak terlalu banyak seperti pembelajaran yang ada di sekolah.
Dalam dunia perkuliahan baik sesudah atau sebelum resmi menjadi seorang mahasiswa baru atau biasa di singkat maba, kalimat “Jangan jadi mahasidswa kupu-kupu” kerap kali di serukan kepada calon mahasiswa terlibih ketika mereka sedang menjalankan kegiatan orientasi (OSPEK) atau ketika para anggota organisasi tengan mengadakan demo perkenalan organisasi masing-masing dikampus. Aku rasa sudah banyak yang tahu apa itu mahasiswa kupu-kupu.
Apasih mahasiwa kupu-kupu itu? dan siapakah mereka?
Mahasiswa kupu-kupu yakni mahasiswa yang kegiatannya hanya kuliah-pulang, kuliah-pulang. Hal ini erat kaitannya dengan kegiatan organisasi yang ada dalam lingkungan kampus. Karena bagi mereka sama sekali tidak mengikuti serta sebagai anggota organisasi dikampus akan mendapatkan julukan “Mahasiswa Kupu-kupu”.

Sederhanya, misal pada hari senin ada mata kuliah pukul 09:00 s/d 10:30 WIB. Mahasiswa memasuki ruang kelas sebelum datangnya dosen dan di mulainya pembelajaran. Selang beberapa lama dosen datang dan kelas segera di mulai. Tidak ada bel yang berbunyi, seperti saat sekolah yang menandakan waktu pulang sudah tiba. Di perkuliahan jika memang materi yang di sampaikan dosen sudah selesai di barengi dengan bincang-bincang mengenai materi dengan Mahasiswa. Jika memang sudah selesai, dosen akan mengakhiri pembelajaran. Aku sempat merasakan itu semua, bagaimana tidak? Kebingungan yang ada dalam benak tak memberi ku jawaban. Akhirnya, pulang adalah jalan yang di ambil oleh sekian banyak mahasiswa.
PULANG, ada beberapa sebab yang mahasiswa pikirkan saat itu, aku pun juga sering kali mengamati diriku sendiri saat itu dan orang lain juga. Alasan beristirahat sekadar merebahkan badan dikasur kos, rumah, atau asrama memang cukup meringankan rasa pegal yang kadang setiap kali harus mengerjakan penugasan dengan mengurangi jam tidur.
Sebenarnya sampai saat ini aku masih belum tahu pengertian secara mendalam dari istilah mahasiswa kupu-kupu ini, atau mungkin istilah ini hanyalah sekedar julukan tanpa perlu memberikan penjelasan panjang lebar. Tapi sejujurnya aku sedikit keberatan dengan julukan ini yang seperti mengarah kepada julukan yang negatif, apalagi aku adalah salahsatunya mahasiswa yang sering diberikan julukan "Dasar Mahasiswa kupu-kupu".
 Lagipun julukan ini sering aku dapatkan ketika masih imut-umutnya disemester satu. Bahkan ketika di lift  kampus pun kawanku tak segan-segan melontarkan kalimat "Laah mahasiswa kupu-kupu sih lo mah diana", karena sering sekali mendapatkan julukan itu akhirnya aku berfikir "Apa sih salahnya jadi mahasiswa kupu-kupu ?" toh aku punya beberapa pendapat yang sepertinya memang tak ada salahnya menjadi mahasiswa kupu-kupu yang kuliah-pulang, kuliah-pulang

Ø   Sama-sama menghargai waktu
Jika alasannya seorang mahasiswa diberi julukan "mahasiswa kupu-kupu" adalah karena dia sama sekali tidak mengkuti kegiatan organisasi dikampus, apakah itu artinya diatidak memiliki kegiatan lain yang bersifat positif diluar lingkungan kampus ?
Yaa ketika kita terlibat dalam kegiatan organisasi dalam lingkungan sekolah memang pada dasarnya akan membuat diri ini menjadi berkembang, aktif, mampu bersosialisasi dan lainnya. Akan tetapi bukan berarti yang tidak mengikuti organisasi juga tidak bisa berkembang, aktif ataupun bersosialisasi dengan baik, apalagi kalau bicara mencari pengalaman wah pengalaman juga banyak kok yang bersifat positif diluar lingkungan kampus.
Ø  Bisa menghargai biaya kuliah
Selain mendapatkan julukan "Mahasiswa kupu-kupu" aku juga sering dibilang “kuliah kok cuma buat isi daftar hadir doang”. Waduh lengkap banget udah dibilang mahasiswa kupu-kupu eh dibilang kuliah cuma buat absen doang. Begini yaa, masalah kuliah untuk sekadar mengisi daftar hadir atau tidak ya itu bukan masalah selama mahasiswa itu hadir dalam perkuliahan alias bukan mahasiswa tuyul yang hanya ada didaftar hadir saja, tapi orangnya entah kemana. Setidaknya mahasiswa kupu-kupu seperti aku ini masih bisa menghargai uang yang dikeluarkan oleh orang tua setiap semesternya untuk biaya hidup disini atau untuk mereka yang sama halnya seperti yang harus membayar UKT. Ya kalau selama kuliah tidak ada sama sekali ilmu yang nyangkut ini baru namanya mahasiswa kupu-kupu sesungguhnya. Nah coba kalau kita lihat lagi dengan beberapa mahasiswa yang memiliki kesibukan diluar jam perkuliahan, kadang beberapa dari mereka memang lebih mementingkan kegiatan organisasi daripada jam perkuliahan, padahalkan biaya kuliah itu cukup mahal. Sampai aku pernah tertawa ngakak baca status temanku yang kurang lebih seperti ini "Gua salut sama orang yang aktif diorganisasi kampus tapi gak ada manfaatnya sama sekali termasuk buat dia sendiri wkwkwk jadi itu kira-kira ngapain aja ya diorganisasi ?
Ø Fokus belajar
Mungkin kesannya lebay banget ya "Fokus belajar" namun memang hal ini juga tidak bisa dipungkiri sebagai keuntungan menjadi mahasiswa kupu-kupu. Banyak kegiatan yang pastinya akan membuat seseorang menjadi sangat sibuk ketika melibatkan dirinya dalam suatu oraganisasi dikampus ataupun misalnya nongkrong dulu bareng teman-teman di kafe kampus setelah jam perkuliahan usai, hal ini bisa saja menyebabkan kurangnya konsentrasi terhadap perkuliahannya.
Ingin seperti apapun gaya seorang mahasiswa jelas itu urusan mereka, mereka bebas memilih ingin menjadi mahasiswa kupu-kupu atau bukan. Tulisan ini hanya sekadar mengingatkan bahwa tak ada salahnya menjadi sosok mahasiswa yang kerjaanya kuliah-pulang, kuliah-pulang, toh selama hal ini tak merugikan diri sendiri apalagi orang lain jelas bukan masalah. Sepertinya juga julukan mahasiswa kupu-kupu kalau mau diperjelas pengertiannya mungkin julukan ini lebih tepat untuk seorang mahasiswa yang kerjaanya kuliah-pulang, kuliah-pulang tanpa bawa bekal ilmu sama sekali. bener gak sih ? Menuerutku, ya memang benar.


Kali ini, Puisiku Sedikit Panjang

Kali ini, Puisiku Sedikit Panjang Takut Kalut Menyerah Bukankah menyeramkan bila terbayang? Saat ini engah terjadi Keparat ini menggebu pilu...